Udara mendadak menjadi gelap, seperti ditelan kabut hitam yang menggantung rendah. Saat Rira bangkit dengan marah mengusap darah yang masih menetes dari bibirnya, ia menarik napas panjang lalu meminum cairan sihir yang di berikan Mira untuk di gunakan dalam kondisi terdesak, matanya bersinar liar di tengah bayangan dan cahaya kutukan. Di antara hembusan napasnya yang berat, ia merentangkan tangan, lalu menggambar sebuah lingkaran sihir di udara dengan jari-jarinya yang bergetar.

"Ashthragul... ZekTharaz... Brogma Shenyal... bangkitlah dari kegelapan terdalam... jawab panggilan pengikat darahku..." desisnya pelan namun menusuk, seperti racun dingin yang menyusup ke tulang-tulang siapa pun yang mendengarnya.

Tanah di sekitar medan pertempuran berdenyut hebat, membentuk retakan berbentuk lingkaran sihir yang aneh, tak seperti formasi manapun yang dikenali oleh para kultivator. Rira menggunakan mantra pemanggil yang hanya dikenal oleh para penyihir, tempat arwah-arwah pendendam berkeliaran tanpa arah.

Langit menggelap seketika, dan dari retakan tanah itu, muncul kabut merah darah. Tanah bergetar, dan suara gemuruh menyerupai erangan seribu jiwa yang tersiksa menggema di udara. Dari tengah formasi tersebut, tangan besar bersisik keluar perlahan. Disusul kepala iblis bermata enam, bertaring tajam, bertanduk melengkung ke belakang, dan tubuh menjulang tinggi dipenuhi duri serta simbol sihir merah yang menyala.

Makhluk itu mengaum, dan seluruh arena pertempuran terlempar oleh gelombang suaranya. Beberapa kultivator terlempar ke udara, beberapa terguling, dan sebagian besar segera membentuk posisi bertahan.

“Apa itu...?” bisik seorang tetua di ranah Immortal. “Bukan binatang iblis... bukan makhluk spiritual...”

“Itu... sepertinya bukan dari dunia ini...” ucap Grandmaster lainnya dengan mata melebar.

Namun mereka tidak panik. Dalam waktu sekejap, empat kultivator ahli formasi dengan jubah kuning muncul dan membentuk posisi melingkar. Mereka menancapkan tongkat spiritual ke tanah dan mulai merapal mantra pembatas.

"Formasi Segel Roh Langit!" seru mereka bersamaan.

Simbol-simbol emas melesat ke udara, membentuk jaring cahaya yang melingkupi tubuh iblis itu. Namun makhluk itu meraung kembali, dan dengan satu gerakan, ia menghantam jaring segel tersebut. Retakan mulai muncul. Para kultivator yang menjaga segel berteriak dan menambah energi mereka agar formasi tetap stabil di bantu oleh kultivator lainnya.

Rira tersenyum, darah masih menetes dari dagunya. "Kalian pikir bisa menahan makhluk dari ranah Gelap Purba hanya dengan formasi biasa? Ini makhluk pemangsa jiwa."

Iblis itu mengamuk, menyapu tanah dan udara dengan cakar raksasanya. Dalam satu hantaman, tiga bangunan roboh. Beberapa prajurit kultivator terluka. Seorang grandmaster hampir terkoyak jika tidak diselamatkan oleh tetuanya.

Namun saat aura iblis mencapai puncaknya, suara langkah tenang terdengar dari belakang para kultivator.

Tap. Tap. Tap.

Monrest melangkah keluar dari aula utama dengan wajah tenang dan mata penuh kebosanan. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia mengangkat tangan dan menggambar sebuah garis di udara dengan satu jari.

"Segel Retakan Jiwa."

Garis itu bersinar putih kebiruan, lalu membelah udara. Dalam sekejap, garis itu berubah menjadi retakan dimensi yang menghisap sebagian besar energi kegelapan iblis. Makhluk itu meraung, tubuhnya mulai retak dan meledak dari dalam, seperti pecah karena kekuatan yang jauh di atas batasnya.

BOOMMM!!!

Ledakan membakar langit dan menyelimuti area pertempuran dengan cahaya putih menyilaukan. Angin badai menyapu ke segala arah. Debu beterbangan.

"Mainan seperti ini tidak cukup untuk membuat kekacauan di tempatku." Monrest berkata dengan dingin.

Tubuh Rira terpental karena dampak kekuatannya yang menyerang balik dan menghantam batu besar. Tubuhnya tergeletak tak berdaya, darah mengalir dari luka-lukanya. Ia nyaris kehilangan kesadaran. Aura pelindungnya nyaris lenyap. Dia tidak menduga pria tua yang dihadapinya memiliki kekuatan yang tidak dapat dia bayangkan sebelumnya.

Para kultivator keluarga Baihuan bergerak maju dengan cepat, hendak menangkapnya.

Namun sebelum mereka bisa menyentuh Rira…

BRAAKHH!!

Sebuah sinar menyilaukan melesat menghantam para kultivator dengan keras.

"ARRRRHHHH"

Suara teriakan kesakitan dari para kultivator yang terlempar akibat serangan tersebut. Tubuh mereka seperti terkena air keras, kulit tubuh mereka meleleh perlahan dengan sangat menyedihkan.

Rekan mereka yang lain berusaha menolong namun mereka yang menyentuh, mengalami hal yang sama. Suara kepanikan, kesakitan  dan tangisan terdengar di sekitar, terutama saat melihat tubuh para kultivator dengan berbagai tingkatan dari master foundation dan grandmaster meleleh menjadi air dengan meninggalkan pakaian yang tersisa.

"Menjauh, semua menjauh. Jangan ada yang menyentuhnya." kata salah satu tetua keluarga Baihuan. Dengan tegas tanpa ragu membunuh penduduk lainnya yang bersentuhan. Tatapannya menjadi marah, matanya merah seolah berdarah menatap ke arah Rira dan rekan-rekannya.

Tiba-tiba mereka baru menyadari, di dekat rombongan wanita tersebut sudah bertambah lima orang wanita yang tidak kalah cantiknya dengan menggunakan pakaian hitam aneh, bertopi kerucut panjang dengan tongkat kecil ditangan mereka. Masing-masing dari kelima orang tersebut memancarkan aura misterius yang asing bagi para kultivator.

"Nyonya, kami gagal. Pria tua itu terlalu kuat." kata Rira sambil memegang dadanya yang sakit.

"Kamu tidak berguna lagi di tempat ini. Kembalilah dan jaga para tahanan." kata Mira menahan kemarahan. Beberapa waktu sebelumnya, dia melihat ramalan dan melihat rintangan besar ada didepannya. Rintangan yang akan menentukan apakah rencana mereka bisa berhasil atau tidak.

Rira mengayunkan tongkatnya, dalam hitungan sepersekian detik, sosok Rira dan ketiga rekannya menghilang dalam sekejap.

Sementara itu, Kanha yang berada di dalam penjara, tanpa di ketahui oleh para penyihir dan penjaga, sejak berada di dunia kultivasi, dia rajin melakukan latihan kultivasi sesuai dengan yang di ajarkan Lynx. Teknik kultivasi yang di lakukan Kanha berbeda dengan para kultivator, dia hanya melatih olah pernapasan untuk menguatkan badannya. Namun tanpa di duga, latihan itu bermanfaat baginya dan membuatnya menjadi forging qi tingkat satu.

Untuk manusia biasa, level tingkat satu sudah memiliki kekuatan fisik yang mengalahkan kekuatan rata-rata pria dewasa dan dengan kenakalan serta kepintarannya, secara diam-diam dia mempelajari area penjara dan mencari jalan keluar.

Mira dan rekan penyihir lainnya tidak pernah menduga jika anak sekecil Kanha yang berusia sekitar tujuh tahun memiliki kemampuan dan kecerdasan diatas anak-anak seusianya sehingga mereka tidak terlalu memfokuskan perhatian kepadanya.

Berkat kegigihannya diam-diam mengikuti para penjaga yang mencari bahan makanan, dia berhasil menemukan jalan keluar melalui portal menuju sebuah hutan yang penuh dengan sumber daya makanan.

Kesempatan tiba, saat dia melihat Rira membawa pergi Ekar, Rafin dan mahluk misterius yang selalu bertugas mengawasi mereka, Kanha segera beraksi. Berbekal ilmu dari Rira yang mengajarkan cara membius Kanha beserta Lynx dan Narendra saat pertama kali mereka bertemu, Kanha menggunakan tanaman obat yang dia temukan di hutan, yang mirip dengan di ajarkan. Dia mulai membakar tanaman tersebut perlahan, memastikan asap mengarah hanya kepada para penjaga. Kanha sendiri membawa kain basah untuk dibagikan kepada para tahanan dan menunggu waktunya tiba.

"Kanha, kamu memang pemberani. tapi kamu harus ingat, jika kita semua yang pergi, akan sulit menghilangkan jejak. Mereka dengan cepat pasti menemukan kita." Widhi mengingatkan.

"Ayahmu benar Kanha, sebaiknya kamu ajak beberapa orang yang kuat untuk pergi dari tempat ini dan mencari bala bantuan. Apalagi jika kamu bisa menemukan kepala suku untuk menyelamatkan kita." kata Uban menguatkan alasan Widhi. Dia menyadari penduduk Surya banyak yang sudah tua dan tidak akan sanggup melarikan diri, namun akan berbeda jika kepala suku datang menyelamatkan mereka.

"Kanha, cepatlah pergi. Aku akan menjaga mereka di sini. Aliah juga sedang terluka. Dia tidak akan bisa pergi jauh. Pergilah sebelum mereka sadar." Desak nenek Drona dengan nada khawatir.

Kanha merasa bimbang, semua pemuda suku Surya sudah menjadi budak penyihir, hanya orang tua, anak-anak dan yang terluka tersisa. Sebagai anak-anak, dia belum bisa mengambil keputusan yang tepat, namun memikirkan desakan dari para tetua dan ayahnya, akhirnya Kanha melarikan diri seorang diri. Dia berpikir harus mencari cara untuk menyelamatkan mereka semua.

"Ayah, nenek Drona, semuanya. Jaga diri kalian." Kata Kanha sebelum kepergiannya.

